Berhentilah melakukan hal yang benar

Manusia itu makluk yang tidak rasional. Jika dihadapkan dengan data, kita bisa setuju dan menolak tergantung dari informasi dan keadaan kita saat itu. Kalau rasional harusnya tidak seperti itu dong. Ada bukunya yang menjelaskan ini secara detil, ditulis oleh Dan Ariely dan berjudul Predictably Irrational. Bukunya sangat menantang pola pikir dan sangat saya rekomendasikan.

Contohnya seperti ini: Jika saya bilang 1 dari 5 perjalanan dengan pesawat itu mengalami kecelakaan, apakah kamu masih ingin naik pesawat? Tentu tidak! Tentunya data di atas salah. Tapi jika diubah pertanyaannya seperti ini: 1 dari 5 pernikahan akan berakhir di perceraian, apakah kamu masih ingin menikah? Ya mungkin masih. Sayangnya data di atas itu benar adanya (data 2012-2015) dan meningkat 3% setiap tahunnya.

Kenapa 2 persoalan dengan komposisi data yang sama bisa menarik 2 jawaban yang berbeda dari kita? Karena manusia menjawab secara emosional dahulu, baru secara rasional. Semua itu terjadi tanpa kita sadari sayangnya, bahkan setelah mengetahui fakta ini pun kita akan tetap berpikir secara emosional dahulu, rasional kemudian.

Hal ini mengakibatkan kita untuk seringkali mengambil keputusan yang buruk untuk diri kita tapi membuat kita lebih senang. Seringkali kita mengambil keputusan yang lebih sesuai dan lebih diterima oleh masyarakat tapi sebenarnya merugikan diri kita sendiri.

Contoh lagi, sudah menjadi rahasia umum bahwa orang sukses dan kaya itu kebanyakan adalah pengusaha. Lalu mengapa hanya 3,1% penduduk Indonesia yang menjadi pengusaha? Negara yang paling tinggi persentase pengusaha pun “hanyalah” 28.1%, masih terbilang minoritas. Btw tebak negara apa coba, bukan kok bukan US, tapi Uganda.

Secara rasional, menurut kalian.. Apakah orang-orang sukses dan kaya raya di seluruh dunia itu setiap hari melakukan hal yang sama dengan orang lain yang tidak sukses? Tentu tidak, come on lah! Mereka sukses karena mereka melakukan banyak sekali hal yang berbeda, dan kebanyakan hal yang mereka lakukan adalah hal-hal yang rasional.

Bukan hal susah, bukan hal yang mustahil, tapi rasional. Seperti bangun lebih pagi, belajar lebih banyak, baca buku setiap hari, kenal orang lebih banyak dengan networking lebih sering, berpikiran terbuka, menyerap banyak ide dan tentu saja bekerja lebih keras.

Itulah kenapa banyak orang sukses itu ANEH. Menurut saya si bukan aneh ya, beda aja. Mungkin sangat berbeda sehingga banyak orang menganggap itu aneh. Kobe Bryant, salah satu pemain basket terbaik di NBA berkata seperti ini

Tidak banyak yang mengerti Kobe, dan tidak banyak juga yang dia anggap teman. Tapi dia menjadi salah satu yang terbaik because he act like himself all the damn time!

Lalu mengapa semua orang takut sekali menjadi “aneh”? Takut menjadi beda, takut salah, takut melakukan hal lain selain yang biasa mereka lakukan? Padahal secara rasional harusnya mereka lakukan semua hal itu untuk mengejar mimpi mereka. Mengapa kebanyakan orang fokus untuk melakukan hal yang “benar”, yang diterima oleh masyarakat dan yang dilakukan milyaran orang lainnya.

Apakah rasional untuk melakukan hal yang sama dengan semua orang dan mengharapkan hasil yang luar biasa?

Tentu tidak semudah itu Ferguso..

Sekarang coba tanyakan ke diri kalian sendiri, apakah kalian lebih sering mengambil keputusan karena menurut kalian itu adalah hal yang dianggap “benar” oleh masyarakat, keluarga, pacar kalian? Atau karena itu adalah sebuah hal yang rasional.

Ok setelah kalian punya waktu untuk berpikir. Coba komentar di bawah, keputusan apa yang kalian lakukan karena takut dianggap aneh tapi ternyata tidak rasional.

Redefining my manifesto

Because if we don’t define who we are, people will do it for us. I’m turning 35 this year, and this is my manifesto.

Thrive for greatness, but maintain balance in life.

Do the work that you love and give meaning to you, but life is not all about work. Maintain your balance with your friends, family, lover. There’s no point in working long hours with depreciating result. Especially to your health.

Be honest to yourself

The easiest person to lie to is yourself. Be true to yourself, be angry, be bitter, be sad and move on. Communicate your feelings, be more outspoken. Those who matter stay, and those who don’t wouldn’t matter.

On to the next mentality

Rejection is like dust, it’s everywhere. Like dust, it doesn’t really matter. Move on, on to the next one and let all the rejections bring you closer to the real deal. Say thank you, say goodbye, and on to the next.

There is no finish line

Compete with ourselves, be a better version than yesterday. Competitors are always good as it drives us forward, but always remember to be better than who we are yesterday. There’s no such thing as winning when we are playing the infinite game.