Cara membuat startup baru tanpa uang sepeserpun!

Ok sesuai janji minggu lalu:

 

Maka saya akan menulis bagaimana cara saya mengembangkan travelonbudget.co tanpa uang sepeser pun. Tulisan ini akan saya bagi menjadi 6 bagian agar lebih mudah dipahami. Kalau ada pertanyaan nanti silahkan ajukan via komentar di bawah. Bagi yang belum membaca posting sebelumnya tentang proses pengembangan, baca dulu di Bagaimana cara membuat Startup sambil kantoran, tanpa uang, tanpa waktu luang.

1. Tenaga Ahli

Ini yang paling penting. Sebenarnya jika ingin dikerjakan sendiri bisa aja, tapi susah motivasinya. Dari dulu selalu tersingkir dengan prioritas lainnya. Dengan adanya teman, kita jadi bisa saling mengingatkan dan memotivasi satu sama lain. Saya sendiri sengaja pilih berdua saja karena kalau bertiga makin ribet mengatur jadwalnya.

Saran saya pilih yang secara personal cocok, keahlian nomor dua. Karena kalau tidak cocok bisa ribet nanti. Lalu cari yang memang punya waktu luang dan dalam proses mengapresiasikan diri, jadi bukan uang motivasinya.

Saya sendiri motivasinya dalam mengembangkan travelonbudget.co adalah ingin belajar melihat bisnis dari domain yang berbeda (travel) dengan model bisnis yang berbeda juga (affiliate). Jadi uang menjadi prioritas kedua.

Untungnya saya menemukan orang yang cocok dan kami langsung jalankan saja. Seperti yang saya sebut sebelumnya, idenya sudah ada dari 3 tahun yang lalu. Tapi karena tidak sempat mengerjakan sendiri dan tidak bertemu teman yang cocok, akhirnya terbengkalai.

Bagaimana dengan yang tidak punya keahlian programming? Ya belajar lah! Hari gini gampang banget belajar hal baru, termasuk programming. Saya sendiri juga sebelum ini hanya bisa PHP saja dan akhirnya belajar menggunakan bahasa baru. Travelonbudget.co dibuat menggunakan AngularJS untuk front-end dan Phyton untuk back-end. Saya belajar AngularJS dengan melihat video dari CodeSchool. Kursus tersebut gratis dan setelah itu belajar sendiri saja dari kode-kode open source yang ada. Untuk orang awam, kurang lebih butuh 3 bulan untuk bisa programming dasar. Cepat kan?

Related:  The Power of the Crowd: Kickstarter Story

2. Domain

Untuk mendapatkan domain cukup mudah dan murah, tinggal ke name.com atau godaddy.com saja dan beli. Punya kartu kredit kan? Domain di godaddy cuma 39rb untuk .com dan .co karena lagi promo. Kurang tahu juga sampai kapan, tapi ya mumpung promo si beli aja. Saya beli di name.com karena memang langganan disitu dan saya beli $6.

Iya, agak curang si disini karena keluar duit sebenernya. Tapi berhubung pakai kartu kredit jadi bayarnya nanti. Jadi sekarang belum keluar duit kok. Tapi beneran de, masa tidak mau keluar uang 39rb untuk beli domain? Tapi janji, untuk semua bagian lain, tidak ada uang sepeserpun.

Domain murah ey! Tahun depannya mahal tapi.

3. Server

Untuk server saya memanfaatkan fitur gratis satu tahun pertama dari Amazon Web Service Free Tier Program. Tidak hanya server gratis, tapi juga banyak sekali layanan lainnya yang gratis selama tahun pertama dan bahkan setelah tahun-tahun berikutnya. Saya sendiri memakai layanan Amazon Simple Email Service (SES) yang bisa mengirimkan email secara gratis sampai 62,000 email per bulan.

Server gratis yang ditawarkan tentu saja tidak mewah, tapi cukup banget untuk memulai. Kamu mendapatkan 1 instance dengan tipe t2.micro 1 virtual CPU, memori 1GB dan 10GB storage space. Selain itu juga mendapatkan tambahan 5GB storage dari Amazon Simple Storage Service (S3). Semua ini gratis untuk satu tahun pertama. Harapannya dalam satu tahun kurang sudah bisa mendapatkan pendapatan dong jadi bisa bayar server.

4. Email

Nah, perusahaan hosting manapun pasti punya yang namanya email forwarder. Ini caranya di GoDaddy. Disini saya atur agar email yang masuk ke ask[et]travelonbudget.co mengarah ke aria[et]rajasa.com.

Saya juga bisa atur agar ketika mengemail dari aria[et]rajasa.com, emailnya akan terlihat dari ask[et]travelonbudget.co menggunakan fitur Gmail alias. Dengan begitu saya tidak perlu keluar uang untuk Google Work atau penyedia layanan email lainnya.

Related:  The Love Industry

5. Marketing

Untuk marketing saya menggunakan teknik pemasaran konten dengan blog dan media sosial. Ya blog ini: rajasa.com dan media sosial saya juga. Kelemahan dari metoda ini ada di waktu. Butuh waktu yang cukup signifikan untuk membangun pengguna. Dalam waktu kurang lebih 3 minggu setelah diluncurkan, travelonbudget.co hanya bisa meraih 899 users saja.

Kami tanamkan fitur “share destination” juga untuk mengajak teman lain berlibur bersama via media sosial dan juga mengajak puluhan teman untuk mencoba travelonbudget.co. Beberapa akhirnya menyebarkan sendiri linknya di social media mereka masing-masing. Langkah tersebut menghasilkan 30% dari traffic yang ada.

Proses ini sebenarnya bisa dipercepat dengan Facebook dan Google Ads. Tapi berhubung temanya masih di metoda gratis maka tidak akan dibahas disini. Selalu coba lakukan sesuatu yang tidak scale terlebih dahulu, seperti pendekatan personal. Dengan begitu kamu bisa langsung mendengar pendapat mereka dan itu sangatlah berharga.

Rencana pemasaran kedepannya yang sudah terpikirkan adalah membuat blog yang menerangkan dengan budget X bisa pergi kemana saja dan ada kegiatan seru apa. Seperti yang Qraved lakukan dengan Qraved Journal. Untuk menjaga pengguna yang sudah ada, akan ada fitur pengingat via email/notifikasi bila tiket yang dicari ternyata lebih murah di waktu tertentu.

6. Model Bisnis

Untuk model bisnisnya pun kami cari yang tidak memerlukan kami untuk mencari klien sendiri dan bagaimana caranya bisa otomatis jalan. Kami pilih menggunakan Skyscanner Affiliate program. Untuk setiap pengunjung yang diarahkan ke Skyscanner, kami akan mendapatkan komisi. Selain Skyscanner masih banyak penyedia affiliate yang bisa kamu pakai seperti Comission Junction atau Aliexpress Affiliate. Untuk iklan tentu saja bisa menggunakan Google Adsense [google.com/adsense] tapi untuk proyek ini kami memutuskan untuk tidak menampilkan iklan.

Related:  Mengapa semakin kamu sukses, semakin banyak yang akan benci

Penutup

Ok, sepertinya 6 bagian di atas sudah cukup menjelaskan keseluruhan proses pengembangan travelonbudget.co dan budget yang terkait, dan sebelum kalian protes. Ini ada beberapa pertanyaan dan respon dari haters yang mungkin muncul:

Ah kalo gitu doang mah gampang! Gw juga bisa.
Ya monggo lanjut bikin toh, ga ada yang ngelarang

Ini mah bukan startup, ini mah iseng-iseng doang!
Ya biar iseng juga dimulai kok, ga cuma diomongin doang trus jadi angan aja ga jadi duit. Yang penting kan memulai, lanjutnya gimana ya liat nanti aja. Gagal jg gak papa.

Situ enak bisa koding/koneksi banyak/ganteng!
Ya semua juga bisa dipelajari toh, di era internet gini mah ga ada alesan ga bisa, adanya ga mau. Kalo koneksi banyak ya keliling lah cari temen, jangan cari musuh mulu di social media. Kalo ganteng ya rejeki saya dari lahir, ga bisa bantu apa-apa kalo soal itu.

Sepertinya sudah cukup sesi sharing kali ini. Sekali lagi, ini proyek yang menyenangkan buat saya dan saya belajar banyak sekali. Saya juga menyarankan startup founder lain coba untuk mengerjakan sesuatu di luar dari pekerjaan utama mereka untuk memecahkan rutinitas dan memberikan kesegaran baru dan pandangan segar terhadap suatu masalah.

Bagi yang baru mulai, semangat selalu dan semoga kalian gagal cepat. Jangan kayak saya yang gagalnya kelamaan.

Kalau ada pertanyaan atau ada hal lain yang ingin dibahas, silahkan komen di bawah ya!

Related Posts:

 

Aria Rajasa

Aria Rajasa Masna is a passionate businessman with an knack for design, casual fashion and also digital industry. Currently positioned as the head honcho of tees.co.id and swagshop.co. Doing his best challenging the impossible on the daily basis.

 
  • Aqshal Huda

    Bosku.. Bagaimana cara menghubungkan website kita dengan web affiliate?

badge
%d bloggers like this: